Perilaku konsumen digital terus bergeser. Jika dulu keputusan beli terjadi setelah membaca review atau membandingkan harga di e-commerce, kini proses tersebut semakin sering berlangsung secara langsung. Live commerce hadir sebagai format yang menggabungkan hiburan, interaksi, dan transaksi dalam satu momen real-time.
Bukan sekadar tren, live commerce menjadi strategi penting bagi brand untuk membangun kepercayaan, menciptakan urgensi, dan mendorong konversi lebih cepat dibandingkan kanal digital konvensional.
Live commerce adalah model penjualan berbasis siaran langsung (live streaming) di platform digital, di mana brand, host, atau creator mempresentasikan produk secara real-time sambil berinteraksi langsung dengan audiens melalui komentar, polling, atau fitur chat.
Dalam live commerce, proses awareness hingga purchase terjadi dalam satu alur yang sama. Konsumen tidak hanya melihat produk, tetapi juga bisa:
Model ini banyak diadopsi di platform sosial media dan marketplace yang mengintegrasikan fitur live dengan sistem checkout instan.
Keunggulan utama live commerce terletak pada interaksi dua arah. Konsumen tidak lagi menjadi penonton pasif, tetapi terlibat aktif dalam proses jual beli.
Beberapa alasan kenapa live commerce lebih persuasif:
Kombinasi ini membuat keputusan pembelian terasa lebih natural dan cepat.
Live commerce bekerja kuat di ranah emosional. Interaksi real-time menciptakan rasa kedekatan, sementara elemen urgensi mendorong audiens untuk segera bertindak.
Beberapa pemicu emosi dan urgensi yang umum digunakan:
Konsumen cenderung lebih impulsif ketika melihat kesempatan yang hanya tersedia dalam waktu singkat, terutama saat didukung oleh validasi sosial dari audiens lain.
Meski terlihat menjanjikan, live commerce bukan tanpa tantangan. Banyak brand gagal mendapatkan hasil optimal karena menganggap live hanya sebagai aktivitas promosi, bukan strategi end-to-end.
Beberapa tantangan utama yang sering dihadapi brand:
Tanpa strategi yang matang, live commerce berisiko hanya menghasilkan views tanpa konversi yang signifikan.
Untuk memaksimalkan potensi live commerce, brand perlu melihatnya sebagai bagian dari strategi digital marketing terintegrasi, bukan aktivitas satu kali.
Pendekatan yang lebih berkelanjutan meliputi:
Dengan strategi yang tepat, live commerce dapat berperan sebagai channel konversi sekaligus pembentuk brand trust jangka panjang.
Live commerce membuktikan bahwa interaksi real-time memiliki kekuatan besar dalam membangun kepercayaan dan mendorong konversi. Melalui kombinasi transparansi, emosi, dan urgensi, brand dapat mempersingkat customer journey dari awareness hingga purchase dalam satu momen.
Namun, keberhasilan live commerce tidak hanya ditentukan oleh seberapa sering brand melakukan live, melainkan seberapa strategis eksekusinya. Brand yang mampu merancang live commerce secara terstruktur dan relevan akan memiliki keunggulan kompetitif di era digital yang semakin interaktif.
Live commerce berfokus pada transaksi dan konversi, sementara live streaming biasa lebih menitikberatkan pada hiburan atau awareness tanpa integrasi langsung ke proses pembelian.
Tidak. Live commerce dapat diterapkan oleh brand skala kecil hingga besar, selama memiliki strategi konten, host yang tepat, dan sistem operasional yang siap.
Banyak platform sosial media dan marketplace kini menyediakan fitur live commerce dengan integrasi checkout langsung di dalam platform.
Live commerce paling efektif untuk produk yang membutuhkan edukasi, demonstrasi, atau kepercayaan tinggi, seperti fashion, beauty, elektronik, dan produk kebutuhan sehari-hari.